Curabitur
Surakartaraya.com,
Jakarta- Ketua DPR RI
Puan Maharani bertemu dengan delapan pemain muda Indonesia penerima program
beasiswa sepak bola Korea–Korea Seleção (KKS) yang akan mengikuti pelatihan
selama satu tahun di Portugal.
Para penerima
beasiswa KKS akan berangkat ke Portugal untuk berlatih, bersekolah, dan
bertanding selama satu tahun di negara asal Cristiano Ronaldo itu.
Delapan pemain
sepak bola muda penerima beasiswa KKS itu bertemu Puan di ruangan pimpinan DPR
di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (8/10).
Pertemuan
berlangsung hangat dan santai di mana Puan sempat mengajak 8 pesepakbola itu
makan siang bersama.
Program KKS
sendiri merupakan hasil kolaborasi dan inisiatif dari tiga tokoh kunci yakni
Wakil Ketua MPR Bambang Wuryanto (Bambang Pacul), Justinus Lhaksana (Coach
Justin atau Koci) dan Abel Luís da Silva Costa Xavier (Faisal Xavier), legenda
sepak bola dan mantan pemain timnas Portugal.
Bambang Pacul
dan Coach Justin turut mendampingi delapam peraih beasiswa KKS saat bertemu
Puan. Delapan pesepakbola muda yang akan berangkat ke Portugal itu adalah Agha,
Dio, Indra, Zuhdan, Mufid, Farrel, Wisnu, dan Maulana Fadli.
Pertemuan ini
menjadi momentum penting untuk menegaskan dukungan pemerintah dan parlemen
terhadap pembinaan sepak bola usia muda Indonesia.
Dalam pertemuan
tersebut, Puan menyampaikan bahwa DPR RI berkomitmen mendukung pengembangan
sepak bola nasional melalui pembinaan berjenjang sejak usia muda. Ia menekankan
pentingnya membangun sepak bola dari level dasar, bukan hanya dari segi fisik,
tapi juga membangun chemistry dan kerja sama tim.
“Sepak bola
adalah olahraga tim. Di lapangan, bukan hanya kemampuan individu yang penting,
tapi juga bonding dan chemistry untuk membentuk tim yang solid,” kata Puan saat
berbincang santai dengan para penerima beasiswa KKS.
Puan berharap
program KKS dapat menjadi pintu kebangkitan sepak bola Indonesia. Ia
mengingatkan agar pemerintah, federasi, dan kementerian terkait memberikan
perhatian penuh pada para pemain muda ini, agar potensi mereka tidak direbut
oleh negara lain. Puan secara khusus memiliki pesan untuk Menteri Pemuda dan
Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir.
“Kita sudah
sekolahkan mereka jauh-jauh ke Portugal. Jangan sampai setelah kembali, talenta
ini justru tidak dimanfaatkan oleh Indonesia. Saya minta ini juga disampaikan
ke Pak Erick dan Kemenpora,” tegasnya.
Puan juga
memberi semangat kepada para pemain yang akan berangkat ke Portugal untuk
belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga kesehatan, serta membuat bangga
keluarga dan Indonesia.
“Senang tidak
adik-adik akan belajar sepak bola selama setahun ke Portugal? Senang ya pasti.
Ini kesempatan yang bagus sekali," ucapnya.
Diketahui, program
Korea–Korea Seleção (KKS) yang digagas tiga tokoh kunci yakni Bambang Pacul,
Coach Justin, dan Faisal Xavier merupakan inisiatif pembinaan sepak bola usia
muda dari Provinsi Jawa Tengah, yang dimulai pada tahun 2024.
Program ini
menyeleksi lebih dari 2.410 pemain U-15 dari enam karesidenan di Jawa Tengah.
Dari seleksi
tersebut, terpilih 17 pemain terbaik untuk mengikuti pelatihan dan pertandingan
uji coba di Portugal.
Delapan pemain
terbaik akhirnya lolos untuk menjalani program beasiswa satu tahun penuh di
Portugal. Mereka akan menempuh pelatihan di klub-klub profesional Portugal dan
bersekolah di sana, melalui dukungan Kedutaan Besar Indonesia untuk Portugal.
"Saya
apresiasi gotong royong semua pihak yang memungkinkan adek-adek kita ini akan
bisa berangkat ke Portugal," tutur Puan.
Sementar itu,
orang tua dari Maulana Fadli yang mewakili orang tua peraih beasiswa KKS
menyampaikan rasa syukur dan bangganya terhadap program ini. Ia mengaku awalnya
banyak tetangga tidak percaya anaknya akan berangkat ke Portugal, namun kini
semua bangga melihat pencapaian tersebut.
“Saya bangga
dengan apa yang dicapai anak saya melalui program KKS. Ini kesempatan luar
biasa,” ujarnya.
Puan pun
menyampaikan ucapan selamat kepada para orangtua yang anaknya terpilih untuk
berangkat ke Portugal.
"Untuk
para orangtua saya juga ucapkan selamat, karena pasti bangga anak-anaknya sudah
terpilih untuk berangkat ke Portugal. Mungkin nanti para orangtua akan kangen
dengan anak-anaknya. Tapi ditahankan sedikit rasa kangennya dan kita sama-sama
doakan dukung mereka berdelapan mendapat pengalaman dan ilmu yang terbaik di
Portugal," papar mantan Menko PMK itu.
Puan juga
menegaskan pentingnya mengembangkan pemain sepak bola sebagai olahraga yang
sangat populer dan mampu menyatukan bangsa Indonesia.
"Apalagi
kalau sudah Timnas bermain itu hampir semua mata melekat ke layar untuk nonton
pertandingannya. Saya aja merinding kalau setelah setiap pertandingan sepakbola
Timnas di kandang lalu mendengar lagu “Tanah Airku” dinyanyikan bersama-sama
oleh satu stadion," sebut Puan.
Lebih lanjut,
Puan memberikan pesan khusus kepada para pemain muda yang akan berangkat ke
Portugal agar dapat memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia berharap agar para
pemain muda dapat menyerap ilmu bermain bola sebanyak mungkin.
"Serap
ilmu sebanyak mungkin karena Insyaallah kalian yang akan menjadi masa depan
sepakbola Indonesia. Oleh karena itu tolong juga agar kalian menjaga nama baik
Indonesia di sana. Dan yang utama adalah selalu bersyukur dan membuat orangtua
kalian bangga dengan perkembangan kalian di sana nanti," pesannya.
Puan berharap
agar semua persiapan berjalan lancar dan para pemain menikmati pengalaman di
Portugal. Anak-anak pesepakbola muda peraih beasiswa KKS juga menyampaikan rasa
terima kasih kepada Puan.
"Selamat
menikmati Portugal dan Insyaallah saat kalian nanti melenting di karir
sepakbolanya. Ingatlah momen ini sebagai salah satu titik awal yang memotivasi
kalian untuk selalu maju," katanya.
Sebagai simbol
kepercayaan, Puan menyerahkan bendera Merah Putih kepada perwakilan pemain
senagai simbol untuk menjaga kehormatan dan membawa nama baik bangsa dengab
prestasi. Dalam kesempatan itu, Puan juga mendapat pakaian jersey bertuliskan
namanya dari pesepakbola muda yang akan berangkat ke Portugal.
Berikut daftar
8 pemain muda penerima beasiswa beserta latar belakang keluarga:
1. Agha (Bapak
Anton dan Ibu Dwi), Manager Pabrik Tembakau
2. Dio (Bapak
Sugeng dan Ibu Poninten), Pekerja Mebel
3. Indra (Bapak
Enjang “Single Parent”), Keamanan Terminal
4. Zuhdan
(Bapak Tarjono dan Ibu Damiroh), Penjual Kue di pasar
5. Mufid (Bapak
Fajar dan Ibu Rohmah), Guru SMK
6. Farrel (Ibu
Ayu “Single Parent”), Penjual toko klontong
7. Wisnu (Bapak
Nyoto dan Ibu Dahlia), Pengusaha Knalpot Motor
8. Maulana
Fadli (Ibu Ayu “Single Parent”), Penjual Kerupuk
Your email address will not be published. Required fields are marked *