Curabitur
Surakartaraya.com- Satgas Gakkum Penyelundupan (Lundup) Bareskrim Polri membongkar praktik impor ilegal komoditas pangan dalam skala besar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Petugas menyita
sedikitnya 23 ton bawang serta berbagai bahan pangan lain yang diduga masuk ke
wilayah Indonesia tanpa dokumen resmi.
“Kami tim
menyisir dua titik berbeda di kawasan Pontianak Selatan. Lokasi pertama, yakni
Jalan Budi Karya No. 5, penyidik mengamankan 10,35 ton bawang merah, bawang
putih, dan bawang bombay kuning,” ujar Direktur Tipideksus Bareskrim Polri,
Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak, Minggu (19/4).
Sementara itu,
di lokasi kedua, kata dia, berada di Komplek Pontianak Square, tim kembali
menemukan 12,796 ton bawang bombay serta tambahan barang bukti berupa cabai
kering.
"Berdasarkan
hasil klarifikasi awal, komoditas ini berasal dari berbagai negara. Bawang
merah diduga dari Thailand, bawang putih dan cabai kering dari China, sedangkan
bawang bombay berasal dari Belanda," katanya.
Hasil
penyelidikan mengungkap, barang-barang pangan tersebut masuk ke Indonesia
melalui jalur Malaysia sebelum akhirnya beredar luas di wilayah Kalimantan
Barat.
Mantan
Kapolresta Solo ini menyebut, para pemilik toko atau gudang di lokasi kejadian
sejauh ini hanya berperan sebagai penerima titipan atau pembeli dari pihak
lain. Guna kepentingan penyidikan, polisi telah memasang garis polisi di lokasi
penyimpanan barang haram tersebut.
Saat ini,
Satgas Gakkum Bareskrim Polri terus melakukan pengembangan untuk mengejar
jaringan pemasok utama yang diduga menjadi otak di balik penyelundupan lintas
negara ini.
Polisi
menegaskan bahwa tindakan tegas ini menjadi bagian dari upaya menjaga
stabilitas harga dan keamanan pangan dalam negeri dari serbuan produk ilegal
yang tidak terjamin kualitasnya.
Pihaknya
mengimbau, para pelaku usaha agar mematuhi regulasi impor yang berlaku guna
mendukung kedaulatan pangan nasional.
"Sementara
itu, jaringan pemasok utama masih dalam pengejaran aparat. Kami tidak akan
memberikan ruang bagi praktik penyelundupan yang merugikan petani dan ekonomi
negara," tandasnya. (IM)
Your email address will not be published. Required fields are marked *