Curabitur
Surakartaraya.com- Aliansi Penyelenggara Haji dan Umrah Seluruh Indonesia (ASPHIRASI) mulai merasakan dampak pelayanan jamaah umroh terlambat pemulangan dan kedatangannya. Hal itu dipicu karena panasnya situasi geopolitik Timur Tengah.
Sekretaris
Jenderal ASPHIRASI, Retno Anugerah Andriyani, mengatakan panasnya situasi
geopolitik Timur Tengah saat ini berimbas terhadap ketidakpastian bagi
Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan para jamaah.
“Sejauh ini
memang belum ada keputusan resmi dari Kementerian Haji dan Umroh Republik
Indonesia terkait penundaan keberangkatan jamaah umrah. Tapi kami sudah
merasakan dampak panasnya situasi geopolitik Timur Tengah,” ujar Retno, Rabu
(11/3).
Ia mengatakan
seluruh penerbangan langsung menuju Arab Saudi masih beroperasi normal.
Maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Saudia Airlines tetap melayani
keberangkatan sesuai jadwal.
“Direct flight
masih berjalan sesuai jadwal. Sejumlah PPIU tetap memberangkatkan jamaah karena
pesawat terbang, visa sudah terbit, hotel tersedia, dan tidak ada pembatasan
resmi penerbangan ke Arab Saudi. Selain itu, rute direct flight tidak melewati
wilayah konflik,” katanya.
Ia mencatat
gangguan signifikan terjadi pada penerbangan transit. Sejumlah maskapai transit
membatalkan atau menangguhkan penerbangan sehingga berdampak pada keberangkatan
dan kepulangan jamaah.
“Kami temukan
ada jamaah yang masih berada di Arab Saudi dan terkendala kepulangan akibat
pembatalan penerbangan transit,” katanya.
Di sisi lain,
terdapat jamaah yang telah mengantongi visa serta memesan hotel dan layanan
lainnya, tetapi gagal berangkat karena tiket maskapai transit seperti Qatar
Airways, Emirates, Etihad, Scoot, dan lainnya dibatalkan atau disuspensi.
Direktur Utama
Hajar Aswad Mubaroq itu menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah
jika penundaan benar-benar diputuskan. Ia meminta kebijakan tersebut disertai
skema mitigasi yang jelas agar tidak menimbulkan kerugian lebih luas.
"ASPHIRASI
mengusulkan sejumlah langkah, antara lain pembatalan atau penjadwalan ulang
visa tanpa penalti, pengembalian dana atau penjadwalan ulang hotel dan
transportasi, serta relaksasi layanan Mashaaer, Masar, dan Nusuk,"
ungkapnya.
Retno menilai
kondisi saat ini termasuk force majeure. Namun, asuransi perjalanan umumnya
tidak menanggung risiko geopolitik sehingga potensi kerugian ditanggung PPIU.
“Kami berharap
negara hadir memberikan kepastian mengenai mekanisme perlindungan jamaah,
penyelesaian kerugian, serta jaminan keberlangsungan industri umrah nasional,”
tandasnya. (IM).
Your email address will not be published. Required fields are marked *