Curabitur
Surakartaraya- Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah pada 2026 bersamaan dengan malam takbiran.
Atas dasar itu,
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta mengeluarkan imbauan agar
Masjid di sekitar Pura Indra Prasta tahan Takbir.
Kepala Kantor
Kemenag Kota Surakarta, Ulin Nur Hafsun, mengatakan pihaknya telah menerbitkan
surat edaran kepada rumah ibadah, khususnya masjid yang berada di sekitar Pura
Indra Prasta, Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan.
“Idul Fitri
1447 Hijriah berbarengan dengan perayaan Hari Nyepi. Nyepi jatuh pada 19 Maret,
sementara Idul Fitri diperkirakan 20 Maret. Jadi bisa saling menjaga kerukunan
umat,” kata Ulin, Rabu (18/3).
Menurut dia,
bersamaan waktu dua hari besar keagamaan ini menjadi momentum untuk memperkuat
toleransi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Kemenag mengimbau masjid yang
lokasinya berdekatan dengan pura untuk menyesuaikan pelaksanaan takbiran.
“Kami minta
masjid terdekat dengan pura untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan
menjunjung tinggi kerukunan. Sehingga syiar Ramadan, Idul Fitri, dan Nyepi bisa
berjalan baik dan lancar,” tegasnya
Dia menegaskan
untuk takbiran tetap diperbolehkan, namun dengan sejumlah penyesuaian. Kemudian
tidak usah pakai pengeras suara.
“Masyarakat
juga diminta tidak menggelar takbir keliling menggunakan kendaraan, khususnya
di sekitar kawasan pura. Kami juga mengingatkan agar tidak menyalakan petasan
maupun kembang api demi menjaga kekhusyukan umat Hindu yang menjalankan Nyepi,”
kata dia.
Sementara itu,
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Surakarta, Nur Suryaningsih, menjelaskan rangkaian
perayaan Nyepi diawali dengan upacara Tawur Agung yang biasanya dipusatkan di
kawasan Candi Prambanan pada 18 Maret.
“Rangkaian
dimulai sejak pagi dengan persembahyangan, lalu puncaknya saat Nyepi umat
menjalankan Catur Brata Penyepian, baik di pura maupun di rumah masing-masing,”
terangnya.
Ia menyebut jumlah umat Hindu di Surakarta sekitar 370 orang, mayoritas merupakan perantau. Saat Nyepi, sebagian besar memilih pulang ke daerah asal, terutama Bali, sehingga aktivitas di pura tidak terlalu ramai.
Meski demikian,
momentum beririsan dengan Idul Fitri tahun ini dinilai menjadi simbol kuat
pentingnya toleransi.
“Ini luar
biasa, karena Nyepi dan Idul Fitri hanya selisih satu hari. Ini mengajarkan
kita untuk terus menjaga kerukunan dan saling menghormati antar umat beragama,”
tandasnya. (IM).
Your email address will not be published. Required fields are marked *