Curabitur
Surakartaraya.com- Puluhan perwakilan komunitas ojek online (Ojol) lintas aplikasi mendatangi Gedung DPRD Solo. Driver ojol mendatangi DPRD Solo memprotes bajaj yang beroperasi di Solo meskipun belum lengkap izinnya.
“Kami telah
menampung seluruh aspirasi dari perwakilan komunitas ojol yang menilai
keberadaan Maxride berpotensi memicu gesekan di lapangan. Ini harus segera
disikapi,” kata Sekretaris Komisi III DPRD Kota Solo, Sonny, Kamis (22/10)
Ia meminta agar
sementara ini Bajaj tidak berjalan dulu untuk mencegah terjadinya gesekan di
lapangan antara Ojol dan pengemudi bajaj Maxride. Pemkot Solo harus segera
bersikap.
“Aplikasi
Maxride saat ini sudah dimatikan sejak Sabtu memarin. Faktanya di lapangan
bajaj masih beroperasi di jalan Kota Solo,” katanya.
Dari hasil
penelusuran DPRD, kata dia, diketahui sudah ada 21 unit bajaj yang disewa oleh
pengemudi, sedangkan 400 unit lainnya sudah dipesan, sebagian besar oleh tukang
becak.
“Kami sudah
pastikan aplikasinya benar-benar mati. Jadi sementara ini belum bisa
digunakan,” kata Sonny.
Ia menyebut
driver bajaj menyewa bajaj seharga Rp25 ribu per hari. Dan bisa mendapat
penghasilan hingga Rp300 ribu per hari.
“Jadi dari sisi
kenyamanan dan penghasilan, memang menarik. Tapi karena muncul penolakan, ya
kita minta hormati dulu situasi yang ada,” katanya.
Sonny menyebut,
keresahan para Ojol muncul karena belum adanya langkah tegas dari instansi
terkait, meski mereka sudah beberapa kali melapor.
“Teman-teman
Ojol ini sudah pernah berkomunikasi dengan Dishub dan Satlantas, tapi belum ada
tindakan. Sudah diperingatkan juga, tapi pengemudi bajaj tetap jalan,” papar
dia.
Ia menambahkan
DPRD juga mendorong Wali Kota Solo agar segera mengeluarkan Surat Edaran (SE)
terkait fenomena bajaj Maxride hingga ada kejelasan regulasi dari Kementerian
Perhubungan. (IM).
Your email address will not be published. Required fields are marked *