Hajad Dalem Garebeg Keraton Solo, Warga Berebut Dua Gunungan

- 23 Maret 2026 | 12:35
IMG
warga saat berebut sepasang gunungan di acara Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959, Minggu (22/3). (Dok. Surakartaraya.com)

Surakartaraya.com- Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959, Minggu (22/3). 

Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959 diikuti ratusan orang abdi dalem. Para peserta melakukan kirab dari Keraton Solo menuju Masjid Agung. 

Peserta barisan pertama merupakan prajurit Keraton Solo dengan alat musik. Lalu peserta lainnya membawa dua gunungan serta beberapa jodang.

Mereka menuju Masjid Agung Solo. Satu gunungan dibagikan kepada warga yang menyaksikan acara di Masjid Agung. 

Sementara itu, satu gunungan lain dibagikan di depan Kori Kamandungan saat peserta kembali menuju Keraton Solo.

Atraksi itu menarik wisatawan yang berlibur ke Keraton Solo, seperti mahasiswi dari Jogja Afifa,19, dan Nabila, 19 yang berlibur ke Solo. 

Keduanya mendapatkan makanan dari gunungan yang dibagikan oleh abdi dalem.

“Ini tradisi yang bagus, saling berbagi kepada masyarakat Solo, saling berbagi kebaikan dari keraton sendiri,” kata Afifa, Minggu (22/3).

Warga Sumatra Utara tersebut menjelaskan sedang berlibur saat libur kuliah. Ia bersama Nabila memilih liburan ke Solo karena dekat dengan Jogja dan murah.

“Setelah ini kami akan ke Museum Keraton Solo lalu ke Pasar Triwindu. Kemudian balik ke Jogja,” ucap dia.

Kerabat Keraton Solo KGPHA Panembahan Dipokusumo menjelaskan Keraton Solo menjalankan rangkaian tradisi sejak sebelum Ramadan mulai dari sadranan, masak apem, malam selikuran, pembagian zakat fitrah, dan grebeg Idul Fitri.

“Ada empat hal yang harus diperkuat dalam tradisi adat budaya Jawa yang bersumber di Kraton Surakarta yaitu pertama adalah saling memperkuat atau doyo dinoyo. Yang kedua adalah samat sinamadan, saling mengingatkan,” katanya 

Ia menambahkan untuk yang ketiga dunga dinungo saling mau mendoakan, dan yang keempat dalam rangka Idul Fitri itu tentu saja ada ngapura ing ngapura, saling memaafkan.

“Ini tradisi warisan budaya yang tetap lestari di tengah perubahan zaman teknologi,” tandasnya. (IM).

 

Berita Terkait