Air Hujan di Jalan Slamet Riyadi Solo Terkontaminasi Microplastic

- 25 November 2025 | 12:48
IMG
Air hujan di jalan tol Solo-Semarang wilayah Boyolali tercemar Microplastic. (Dok. Tim Microplastic Hunter).

Surakartaraya.com- Tim Microplastic Hunter dari Ecoton Foundation menemukan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Boyolali dan Solo. 

Hal itu diketahui dari pengambilan sampel pada 23 November 2025 di lima titik, yakni Jl. Kemuning (Solo), Jl. Hassanudin (Solo), Jl. Tol Ngemplak (Boyolali), Jl. Slamet Riyadi (Solo), serta satu titik kontrol dari kota lain.

Dimana penelitian dilakukan dengan menempatkan wadah aluminium, stainless steel dan wadah toples kaca dengan diameter 35 cm diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5  meter selama 1-2 jam  pada 4 lokasi utama dan 1 lokasi kontrol.

Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik tertinggi ditemukan di Jl. Slamet Riyadi, Solo dengan 125 partikel/liter.

Kemudian disusul Jl. Tol Ngemplak Boyolali (78 partikel/liter) dan Jl. Hassanudin Solo (75 partikel/liter). 

Temuan ini didominasi oleh mikroplastik jenis fiber (serat) dan sebagian kecil film/filamen. Dari sisi warna, mikroplastik hitam mendominasi hingga 71,3%, disusul warna biru (18,1%), merah (7,4%), dan transparan (3,2%) (Gambar 2), Temuan ini masih merupakan uji awal berbasis komposisi jenis, dan warna. 

Koordinator Tim Microplastic Hunter Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengatakan temuan ini perlu diperhatikan karena menyangkut kesehatan.

“Jangan kebiasaan mangap saat hujan turun, karena setiap tetes membawa risiko paparan plastik. Ternyata air hujan di Solo juga terkontaminasi mikroplastik” ujar Alaika, Selasa (25/11).

Ia menyebut ada 3 hal utama penyebab tingginya mikroplastik di air hujan Solo. Pertama, Aktivitas pembakaran sampah terbuka, terutama plastik multilayer dan tekstil sintetis, yang melepaskan fiber ke atmosfer. 

Kedua, abrasi ban kendaraan bermotor dan rem kendaraan, mengingat arus lalu lintas padat di jalur Solo-Boyolali. Ketiga, banyak sampah plastik yang dibuang sembarangan kemudian tercecer di lingkungan, yang turut melepaskan mikroplastik ke udara dan terbawa oleh air hujan.

“Mikroplastik berukuran sangat kecil (<5 mm - 1 mikron) dapat melayang dalam atmosfer ratusan kilometer, makanya semakin banyak orang yang membakar sampah, maka semakin banyak juga mikroplastik yang dilepaskan ke udara dan terbawa oleh air hujan” kata Sofi.

Dampak mikroplastik aiir hujan bagi jesehatan dan lingkungan, kata dia, dari sisi kesehatan, mikroplastik berpotensi membawa bahan kimia berbahaya seperti phthalates, BPA, logam berat, serta mikroorganisme patogen yang dapat menempel pada permukaannya.

“Paparan jangka panjang melalui air, udara, dan makanan dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, gangguan hormon, hingga inflamasi kronis,” ujar Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, 

Selain itu, terdapat dampak ekologis yang tidak kalah penting. Sedimentasi mikroplastik yang terbawa air hujan dapat mencemari tanah, sawah, dan sungai yang menjadi sumber air baku bagi Kota Solo. 

“Air hujan tercemar ini berpotensi masuk ke sistem irigasi, mempengaruhi kesehatan tanah, bahkan diserap oleh tanaman yang kemudian masuk ke rantai pangan masyarakat,” tegasnya. (IM).