Rudy Soroti Gagalnya Tim Beregu Putra Badminton di Thomas Cup

- 06 Mei 2026 | 21:45
IMG
Ketua PBSI Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, saat penutupan Kejurkot PBSI Solo Piala Wali Kota Solo 2026 di GOR FKOR UNS Manahan Solo, Rabu (6/5). (Dok. Surakartarya.com)

Surakartaraya.com- Ketua PBSI Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menyoroti gagalnya tim beregu putra badminton di Thomas Cup 2026. 

Ia menegaskan pentingnya regenerasi atlet bulu tangkis di Kota Bengawan hingga memberikan kesempatan bagi atlet diluar klub untuk menunjukan kemampuannya melalui ajang kompetisi lokal.

Hal tersebut diungkapkan Rudy disela penutupan Kejurkot PBSI Solo Piala Wali Kota Solo 2026 di GOR FKOR UNS Manahan Solo, Rabu (6/5).

“Di tengah kelesuan prestasi nasional, PBSI Solo berencana menginisiasi rangkaian turnamen berjenjang demi menjaring bibit unggul dari akar rumput,” ujar Rudy.

Ia mengatakan saat ini, turnamen bulu tangkis yang ada hanya Kejurkot, ke depannya akan digelar Piala Ketua PBSI Solo. Tujuannya membangkitkan gairah bulu tangkis sejak usia dini. 

“Sasaran utama kejuaraan ini adalah anak-anak yang belum masuk ke klub-klub besar namun memiliki potensi skill yang mumpuni,” ucap dia.

Mantan Wali Kota Solo ini mengingat belakangan ini pencapaian atlet bulu tangkis Indonesia dinilai belum memenuhi ekspektasi sebagai salah satu negara dengan bulu tangkis terbaik di dunia.

?"Kita ini masih punya rasa prihatin untuk olahraga bulu tangkis. Uber Cup sampai semifinal, tapi Thomas Cup tidak sampai ke semifinal padahal targetnya juara pada turnamen yang baru ini. Ini mestinya menjadi keprihatinan seluruh bangsa untuk meningkatkan kembali prestasi seperti zaman Liem Swie King, Tan Joe Hok, dan seterusnya," katanya.

Dia menegaskan di Solo atletnya cukup banyak, namun belum lahir lagi 'Icuk Sugiarto' baru yang punya prestasi luar biasa di kancah dunia. Makanya, anak-anak usia dini harus kita utamakan untuk diberi panggung," kata dia.

Rudy juga memberikan kritik membangun untuk PBSI Pusat. Menurutnya, ada tiga kunci utama untuk bangkit, yakni kebersamaan pengurus, pembinaan yang konsisten, dan dukungan sponsor. 

Ia sempat menyinggung soal regulasi sponsor rokok yang kini diperketat, yang menurutnya berdampak pada penurunan prestasi secara drastis.

?"Zaman dulu ada Djarum dengan model rokok boleh, sekarang tidak boleh, makanya turunnya drastis. Kita boleh protes, tapi jangan berlebihanlah. Yang penting bagaimana prestasi ini bisa naik lagi," tambahnya.

Rudy menyadari bahwa bulu tangkis merupakan olahraga yang relatif mahal. Oleh karena itu, ia ingin negara dan pengurus hadir agar masyarakat tidak terbebani biaya tinggi dalam memunculkan potensi anak-anak mereka. (IM).

 

Berita Terkait