Tekan Inflasi, Pemprov Jateng Luncurkan Jawa Tengah Agro Berdikari

- 08 Oktober 2025 | 15:33
IMG
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, meninjau langsung operasional kios binaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) JTAB Pasar Legi Solo, Rabu (8/10). (Dok.surakartaraya.com)

Surakartaraya.com- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melakukan upaya serius, dalam menekan angka inflasi dengan meluncurkan Jawa Tengah Agro Berdikari (JTAB) di Pasar Legi Solo, Rabu (8/10). 

Peluncuran tersebut dilakukan langsung Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dengan meninjau langsung operasional kios binaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) JTAB. 

“Kios tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jateng dalam mengintervensi harga bahan pokok agar tetap stabil dan tidak dimainkan tengkulak. Dan tekan inflasi,” ujar Luthfi, Rabu (8/10).

Luthfi menegaskan peran strategis JTAB dalam menjaga keseimbangan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. 

“Jadi di Jawa Tengah kita punya BUMD yang namanya JTAB, Jawa Tengah Agro Berdikari. Saya sudah perintahkan agar di seluruh pasar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah harus ada kios JTAB,” ujar Luthfi.

Ia menjelaskan kehadiran kios JTAB bertujuan memangkas rantai distribusi yang terlalu panjang antara petani dan konsumen. 

“Kios JTAB ini adalah memangkas birokrasi terkait bahan pokok penting, seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan lain sebagainya,” kata dia.

Ia mengatakan tugas JTAB ini adalah melakukan penetrasi harga agar harga tidak dipermainkan oleh para tengkulak.

Hasil intervensi tersebut sudah mulai terlihat pada komoditas cabai merah. 

“Kemarin harga cabai merah sempat mendekati Rp 40 ribu, sekarang sudah turun menjadi Rp26 ribu. Di tingkat petani sekitar Rp 20-Rp 25 ribu, jadi masih wajar. Ini perlahan-lahan akan turun dengan adanya intervensi. Kalau tidak turun, direkturnya saya copot,” tegas dia.

Dia menambahkan keberadaan kios JTAB diharapkan menjadi solusi konkret dalam menstabilkan harga bahan pokok di Jawa Tengah, sekaligus memberikan kepastian bagi petani dan konsumen. 

“JTAB ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga intervensi sosial agar masyarakat tidak menjadi korban permainan harga,” tandasnya.

Direktur Utama JTAB, Totok Agus Siswanto, memastikan keberadaan kios JTAB ini tidak mengganggu kios lain. Total ada 5 daerah yang ada pasar tradisional terdapat kios JTAB. Pelaksana ini menggandeng mitra BPR BKK Jateng.

“Total ada 35 outlet kios JTAB di Jateng, yaitu di Kendal, Ungaran, Salatiga, Boyolali, dan Solo. Di Pasar Legi Solo terdapat dua lokasi,” katanya.

Produk yang dijual, kata dia, merupakan bahan pokok hasil petani, seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain.

Ia menegaskan JTAB berperan memutus rantai panjang perdagangan yang selama ini membuat harga bahan pokok melonjak. 

“Biasanya dari petani dijual ke pedagang besar, lalu pedagang eceran, baru sampai pasar. Kita langsung dari petani ke pasar. Harapannya nanti harga di Jawa Tengah lebih merata, tidak ada daerah yang harganya naik sementara daerah lain turun,” jelasnya.

Ia menambahkan, target tahun ini adalah setiap kabupaten/kota memiliki satu kios JTAB, khususnya di pasar induk atau pasar pantauan. 

“Kita juga punya pusat pasok di Magelang, tepatnya di Pakis. Setiap hari kita menerima hasil panen dari petani. Kita beli dengan harga layak, kemudian dijual di pasar dengan harga lebih murah daripada pedagang lainnya,” tandasnya. (IM)




Berita Terkait