Antisipasi Kemarau Panjang Dampak El Nino, Ini Strategi Menteri PU

- 01 April 2026 | 13:27
IMG
Menteri PU, Dody Hanggodo. (Dok.Surakartaraya.com)

Surakartaraya,com- Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino. 

Antisipasi dilakukan terutama pada sektor pertanian dengan diapakan Program Pompanisasi penguatan sistem irigasi di berbagai daerah.

Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian di antaranya untuk program pompanisasi masif dan penguatan sistem irigasi di berbagai daerah.

Hal ini ditujukan untuk mengairi sawah-sawah yang tidak lagi mendapatkan suplai air, baik dari bendung maupun bendungan.

“Kami menyiapkan pompa-pompa kecil untuk membantu pengairan, terutama di wilayah yang diperkirakan akan mengalami kesulitan air mulai September hingga Oktober 2026,” ujar 

Dody disela meninjau infrastruktur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (31/3).

Dikatakanbya pemerintah juga membuka opsi operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan di daerah hulu bendungan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kering berlangsung.

“Pembangunan JIAT juga menjadi solusi jangka menengah. Pogram ini dilakukan di wilayah yang selama ini hanya mengandalkan tadah hujan akibat menurunnya fungsi infrastruktur air yang ada,” katanya.

Ia mencontohkan, di lokasi yang dikunjunginya, sawah tidak lagi teraliri air karena bendung milik pemerintah daerah tidak terawat dengan baik.

“Akibatnya petani hanya bisa panen sekali dalam setahun. Dengan adanya irigasi air tanah, kita bisa bantu agar mereka bisa panen hingga tiga kali,” katanya.

JIAT yang dibangun, kata dia, memanfaatkan sumur dalam dengan kedalaman sekitar 120 meter dan debit air mencapai 12 liter per detik. Dengan kapasitas tersebut, satu titik irigasi mampu mengairi sekitar 20 hektare lahan. 

Dody menekankan pentingnya pembangunan jaringan irigasi tersier untuk meningkatkan efisiensi distribusi air. Menurutnya, tanpa sistem distribusi yang baik, penggunaan air berpotensi tidak optimal. 

“Kalau ada jaringan tersier, air bisa lebih hemat dan menjangkau lebih banyak lahan,” ujarnya. 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan air tanah harus dilakukan secara bijak. Penggunaan berlebihan dapat memicu penurunan muka tanah dan mengancam ketersediaan air di masa depan. 

“Setiap pembangunan JIAT akan didahului dengan kajian teknis, termasuk survei geolistrik untuk memastikan keberadaan akuifer,” katanya.

Ia optimistis berbagai langkah ini mampu menjaga ketahanan pangan nasional. Bersama Menteri Pertanian, pemerintah telah menyiapkan peta jalan swasembada pangan untuk mengantisipasi dampak El Nino.

“Insyaallah tidak ada krisis pangan. Program pompanisasi akan mulai berjalan sekitar Mei atau Juni, sehingga produksi pertanian tetap terjaga,” paparnya.

Ia menambahkan dukungan infrastruktur lain seperti jalan usaha tani juga akan dimasukkan dalam program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah guna memperlancar distribusi hasil pertanian.

“Dengan kombinasi pompanisasi, irigasi air tanah, dan efisiensi jaringan irigasi, pemerintah menargetkan produktivitas pertanian tetap stabil meskipun di tengah ancaman kekeringan,” pungkasnya. (IM).


 

Berita Terkait