Curabitur
Surakartaraya,com- Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
Antisipasi
dilakukan terutama pada sektor pertanian dengan diapakan Program Pompanisasi
penguatan sistem irigasi di berbagai daerah.
Menteri PU,
Dody Hanggodo mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kementerian
Pertanian di antaranya untuk program pompanisasi masif dan penguatan sistem
irigasi di berbagai daerah.
Hal ini
ditujukan untuk mengairi sawah-sawah yang tidak lagi mendapatkan suplai air,
baik dari bendung maupun bendungan.
“Kami
menyiapkan pompa-pompa kecil untuk membantu pengairan, terutama di wilayah yang
diperkirakan akan mengalami kesulitan air mulai September hingga Oktober 2026,”
ujar
Dody disela
meninjau infrastruktur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kabupaten Boyolali,
Jawa Tengah, Selasa (31/3).
Dikatakanbya
pemerintah juga membuka opsi operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah
hujan di daerah hulu bendungan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan
air bagi lahan pertanian selama musim kering berlangsung.
“Pembangunan
JIAT juga menjadi solusi jangka menengah. Pogram ini dilakukan di wilayah yang
selama ini hanya mengandalkan tadah hujan akibat menurunnya fungsi
infrastruktur air yang ada,” katanya.
Ia
mencontohkan, di lokasi yang dikunjunginya, sawah tidak lagi teraliri air
karena bendung milik pemerintah daerah tidak terawat dengan baik.
“Akibatnya
petani hanya bisa panen sekali dalam setahun. Dengan adanya irigasi air tanah,
kita bisa bantu agar mereka bisa panen hingga tiga kali,” katanya.
JIAT yang
dibangun, kata dia, memanfaatkan sumur dalam dengan kedalaman sekitar 120 meter
dan debit air mencapai 12 liter per detik. Dengan kapasitas tersebut, satu
titik irigasi mampu mengairi sekitar 20 hektare lahan.
Dody menekankan
pentingnya pembangunan jaringan irigasi tersier untuk meningkatkan efisiensi
distribusi air. Menurutnya, tanpa sistem distribusi yang baik, penggunaan air
berpotensi tidak optimal.
“Kalau ada jaringan tersier, air bisa lebih hemat dan menjangkau lebih banyak lahan,” ujarnya.
Meski demikian,
ia mengingatkan bahwa pemanfaatan air tanah harus dilakukan secara bijak.
Penggunaan berlebihan dapat memicu penurunan muka tanah dan mengancam
ketersediaan air di masa depan.
“Setiap
pembangunan JIAT akan didahului dengan kajian teknis, termasuk survei
geolistrik untuk memastikan keberadaan akuifer,” katanya.
Ia optimistis
berbagai langkah ini mampu menjaga ketahanan pangan nasional. Bersama Menteri
Pertanian, pemerintah telah menyiapkan peta jalan swasembada pangan untuk
mengantisipasi dampak El Nino.
“Insyaallah
tidak ada krisis pangan. Program pompanisasi akan mulai berjalan sekitar Mei
atau Juni, sehingga produksi pertanian tetap terjaga,” paparnya.
Ia menambahkan
dukungan infrastruktur lain seperti jalan usaha tani juga akan dimasukkan dalam
program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah guna memperlancar distribusi
hasil pertanian.
“Dengan
kombinasi pompanisasi, irigasi air tanah, dan efisiensi jaringan irigasi,
pemerintah menargetkan produktivitas pertanian tetap stabil meskipun di tengah
ancaman kekeringan,” pungkasnya. (IM).
Your email address will not be published. Required fields are marked *